Si Wadah Luka, Ratunya Sang Naga
Menuruni tangga dengan senyum yang tidak pernah lepas adalah sesuatu yang sudah melekat pada Atheeya. Senyum yang terus menerus terpancar walaupun tidak ingin di lihat semua orang, senyumnya yang membuat semua orang menatap muak ketika melihat Atheeya.
Plak
Suara tamparan memenuhi ruangan, Atheeya memegang pipi kanan nya yang terasa sakit sambil tersenyum menatap seseorang yang amat sangat dicintai nya ini
"Selamat pagi ayah!" Sapa Atheeya dengan senyum yang semakin lebar walaupun itu akan membuat pipi kanan bekas tamparan itu semakin terasa sakit
Atheeya sudah terbiasa dengan semua ini, bukan hal baru lagi! Kekebalan pada batin dan fisik nya membuat nya menerima apa saja yang membuat nya lelah! Prinsipnya tetap dipegang teguh! Apapun yang menjadi miliknya akan selalu berada di genggaman Atheeya. Prinsip yang terus menerus membuat nya merasakan sakit yang luar biasa.
"KAU! APA YANG KAU KATA KAN PADA NURA ATHEEYA! AYAH SUNGGUH MALU MEMILIKI ANAK SEPERTI MU!!" Suara bentakan sang ayah adalah sebuah lagu bagi Atheeya. Seperti sudah rutinitas Atheeya setiap pagi
"Atheeya mengatakan apa ayah?" Tanya Atheeya mencoba untuk tersenyum walaupun jauh didalam lubuk hatinya rasa sakit itu bersemayam seolah-olah hati nya adalah tempat ternyaman untuk sebuah kata sakit
"ANAK TIDAK TAU DIRI! Bisa bisa nya mengatakan hal menjijikan itu pada Nura! Aku meragukan apa kau memang berasal dari benih ku!" Bentakkan itu sudah biasa untuk Atheeya
"Atheeya tidak pernah mengatakan apapun pada Nura ayah! Ayah percaya deh Atheeya ga bohong," ucap Atheeya mencoba untuk menyakinkan Sang ayah
"Cihh! Sok polos Lo! Jijik liat nya," ucapan seseorang mengalihkan perhatian Atheeya
"Selamat pagi Abang Andro!" Sama Atheeya dengan senyum manis dan lambaian tangan
"ATHEEYA!!" Bentakkan itu membuat Atheeya terkejut dan menatap sang ayah
"Sekarang minta maaf sama Nura! Ayah tidak pernah mendidik mu seperti ini!" Ucap Arga, Sang ayah.
Menarik Atheeya dan menempatkan Atheeya di hadapan Nura, itu yang dilakukan Arga sekarang.
"Minta maaf!" Perintah Arga yang di balas dengan gelengan kepala oleh Atheeya
"Atheeya ga salah apa-apa ayah," ucap Atheeya menolak
Dia tidak mengetahui apa kesalahan nya, dia tidak tau kenapa ayah nya bertingkah seperti itu, dan dia juga tidak tau mengapa kejadian ini terjadi setiap pagi.
Atheeya lelah? Tentu saja! Tapi kata pantang menyerahnya memang membuatnya terbiasa dengan rasa sakti, rasa sakit yang terus menerus menggerogoti tubuhnya.
Plak
Suara tamparan terdengar lagi dan kini pipi sebelah kiri Atheeya yang memanas, tidak ada air mata disana. Karena Atheeya sudah terbiasa dengan segala nya
"MINTA MAAF ATHEEYA!" Bentakkan menggelegar itu terdengar
Atheeya menatap Nura! Dalam diam dia menyesali perbuatannya dulu, meminta Nura untuk dijadikan anak angkat oleh keluarga Dirgantara. Mengingat dulu membuat nya muak akan situasi sekarang
"ATHEEYA!" Bentakkan itu terdengar lagi
"Aku pergi dulu!" suara seseorang berdiri dari meja makan mengambil ahli perhatian termasuk Atheeya
"Abang Athalla ga mau bareng Atheeya?" Tanya Atheeya menghentikan langkah kaki Athalla. Kembaran Atheeya
Athalla berbalik dan melihat Atheeya, masih ada tatapan hangat disana, Atheeya tau itu walaupun Athalla selalu diam saja ketika dia di marahi tapi Athalla mengulurkan tangan seolah-olah menginginkan Atheeya menggenggam tangan nya.
Atheeya pun tersenyum lebar mengambil langkah untuk melangkah menuju Athalla. Satu satu nya orang yang membela nya selain bunda nya, tapi sebelum sampai ke tujuan nya Atheeya di tarik lebih dulu oleh Arga.
Tarikan yang berhasil membuat Atheeya kehilangan keseimbangan dan berakhir jatuh, kepala Atheeya tidak sengaja membentur meja makan.
Darah segar mengalir di dahi Atheeya, tidak ada yang perduli bahkan Athalla pun hanya diam saja menyaksikan itu. Atheeya baik baik saja sungguh, walaupun Athalla saudara kembar nya diam saja tapi masih ada tatapan hangat disana itu lebih dari cukup.
Walaupun abang tertua nya Arkan diam saja dengan tatapan dingin tapi tatapan itu sudah cukup bagi Atheeya.
Walaupun abang kedua dan ketiga nya, Andro dan Andra juga diam saja. Itu lebih dari cukup bagi Atheeya.
Tatapan mereka lebih dari cukup untuk Atheeya.
Atheeya pun mendongak melihat ayah nya yang menatap nya dengan pandangan tajam, masih ada amarah disana Atheeya masih bisa melihat jelas.
Atheeya tersenyum menatap Arga.
Penulis: VA
Comments
Post a Comment