Raya dan Impian
Suatu ketika, ada seorang gadis kecil bernama Raya. Ia memiliki cita-cita setinggi angkasa.
"Aku kalau sudah besar mau jadi Dosen di Jepang." Kata Raya kepada sang ibu.
"Iya nak, belajar yang rajin biar impian kamu bisa tercapai." sang ibu menanggapi.
Setelah remaja, Raya tumbuh menjadi gadis rupawan yang amat berprestasi di kampusnya. Ia lulus dengan nilai cumlaude dan predikat 'mahasiswa berprestasi' di genggamannya. Setelah perayaan wisuda berakhir, Raya pulang mengendarai mobil pemberian dari orang tuanya. Lalu, Ia melihat seorang nenek tua yang kesulitan ketika hendak menyebrang. Raya yang merasa iba pun menghentikan mobilnya untuk nenek tua tersebut.
Namun, saat hampir sampai seberang jalan, Raya terserempet oleh mobil yang melaju secepat kilat dan meninggalkannya tergeletak begitu saja. Nenek tua yang selamat dari kejadian itu pun mencari bantuan di sekitarnya. Raya dibawa oleh ambulans untuk menempuh perjalanan ke rumah sakit.
Setelah siuman dari pingsannya, Raya melihat keadaan yang sangat asing baginya.
"Dimana aku? Apa yang terjadi padaku?" Kata Raya.
"Oh anakku yang mulia perbuatannya, syukurlah kau selamat. Tenang nak, disini ada ayah dan ibu." Ucap sang ibu histeris.
"Mengapa kakiku sulit digerakkan ibu?" Ujar Raya mulai menangis.
"Kau dinyatakan lumpuh di kedua kakimu nak, tapi dokter akan berusaha untuk kesembuhanmu." Ratap sang ibu merasa iba.
"Bagaimana dengan cita-citaku Bu? aku tidak akan bisa meraihnya bila menjadi seseorang yang bergerak pun tak bisa? Mengapa aku tidak mati sekalian saja ayah?" Tangis Raya semakin menjadi.
"Jangan nak, jangan katakan itu. Berpikirlah, jika kamu pergi sekarang, banyak orang yang kehilanganmu. Untuk impianmu, tidak ada yang mustahil bila Tuhan sudah berkehendak. Semangat nak, bukankah kamu ingin membahagiakan kami?" tutur sang ayah memberi semangat
Sejak saat itu, Raya terus berusaha dan akhirnya ia berhasil menggapai impiannya. Ya, dia telah menjadi dosen terkenal di Jepang dan negaranya. Sosok Raya menjadi panutan sejagat insan di dunia. Karena perjuangannya dan realita bahwa lumpuhnya yang tak bisa disembuhkan.
Penulis: Jingga
Comments
Post a Comment