Perjuangan untuk Sekolah

    Saya paling anti menghadiri acara-acara yang diadakan kelas, seperti ulang tahun, makan-makan, kerja kelompok. Bahkan acara kelas pun saya tidak menghadirinya. Jatuh cinta? jangan ditanya, sering sekali merasakan jatuh cinta dan harus merasakan sakitnya bertepuk sebelah tangan. Tapi mungkin di sanalah tumbuh kekuatan dalam diri. Saya tekad sekolah Ditengah kondisi ekonomi keluarga yang minim, saya bertekad untuk  sekolah SMP  bermodalkan tekad, bapak saya hanya pedagang yang harus memenuhi kebutuhan pangan saya dan keluarga untuk bertahan hidup walaupun kadang meminjam uang sana sini, kakak saya yang masih sekolah harus berhenti sekolah karena patah kaki,ibu saya hanya ibu rumah tangga yang sudah cape dengan urusan domestik rumah tangga. 

    Tak ada fasilitas, kendaraan mewah seperti teman teman yang lain Dalam kondisi kekurangan  saya berangkat sekolah di antar saudara/sepupu saya. Ayah saya terkadang memberikan uang kepada sepepu saya untuk menganti uang bensin.ayah bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga saya walaupun itu tidak cukup.terkadang saya tidak ada yang mengantar untuk sekolah karena tidak mampu membayar uang bensin,ketika saya tidak ada yang mengantar saya diantar tetangga.ada insiden yang tidak pernah saya lupakan,saya terjatuh karena saya belum mencapai jok montor sudah menancap gas. Itu sekelumit pengalaman saya sebagai satu dari ribuan orang yang berusaha tetap survive di tengah zaman karena  hidup terus berlanjut.


Penulis: Kepompong


Comments

Popular posts from this blog

Pria yang Kehilangan Jati Diri

Arutala

Apa Itu Insecure?