Arutala

        Arutala namanya, dari bahasa Sanskerta. Ia mendapatkannya dari sang ibu dengan harap menjadi seseorang yang memiliki cita-cita tinggi dan mulia seperti rembulan. Rembulan yang digambarkan sebagai pelita di tengah gelapnya malam menunjukkan wujud cita-cita yang baik untuk sesama.

        Namun sang ibu lupa bahwasanya pelita ditengah gelapnya malam tak akan muncul tanpa 'malam' itu sendiri. Arutala sosok yang tekun, bukan yang terbaik tapi ia baik. Arutala bekerja keras untuk segalanya, tetapi ia masih sering berpikir soal kegagalan kegagalan itu. Ibu bilang "gagal itu hanya sekali jangan dua kali, itu sangat buruk" Tapi,  bagaimana mau berhasil jika aku sudah merasa buruk dengan gagal sekali. "Bu, aku akan jadi pelita itu tapi apakah tak apa jika malam gelap gulita harus datang menghampiri?". Sang ibu tak berkutik, diam menghela. 

        Arutala ingin menjadi seorang pelukis. Mimpi yang sangat indah. Namun sang ibu berkata "untuk apa buang buang waktu didunia seni? dunia itu kelam, tak akan membuatmu berkembang nak". Tetapi Arutala tetap berpegang teguh dengan cita-citanya sampai sang ibu berkata "dulu ibu pernah jatuh cinta dengan dunia seni tapi kamu tau? dunia itu juga yang membuat ibu hancur."

        Arutala meributkan hal-hal dengan dirinya sendiri. "Bagaimana bisa aku tega kepada ibu? sudah menyerah saja aku" ucapnya sambil menuangkan rasa, melalui lukisan. Lukisan Arutala selalu cantik, tapi terlihat sendu. Mungkin karena dia selalu berusaha menutupi keinginannya.

     Seorang kakek tua tak sengaja melihat lukisan Arutala, "cantiknya, tapi hatiku terasa sesak melihatnya" ucap kakek itu. "Aduh! maaf lukisanku masih jelek, tolong jangan lihat itu" Arutala kalang-kabut, panik saat seseorang melihat lukisannya. Tapi kakek itu berkata sesuatu yang membuat Arutala tenang, setenang air. "Lukisanmu indah nak, sangat indah. Tolong jangan menahannya, lakukan jika memang ingin, secukupnya saat melakukan. Orang-orang tak akan kecewa, mereka ingin kamu teguh dengan pendirianmu.. Ini ujian, suatu saat nanti jadilah pelukis handal lalu lukislah aku sebelum aku lupa betapa indahnya lukisan biru lautanmu itu.


Penulis: Moonduzt

Comments

Popular posts from this blog

Pria yang Kehilangan Jati Diri

Apa Itu Insecure?