Bertekad dan Pantang Menyarah untuk Menggapi Sesuatu yang Diinginkan
Aku ingat betul pengalamanku belajar baik sepeda. Aku sangat ingin bisa naik sepeda karena melihat kakak sepupuku kelas 6 SD yang sudah bisa naik sepeda, saat ibu dan bapakku kerja, aku di titipkan di rumah pakdeku. Saat di rumah pakdeku, aku sangat iri saat kakak sepupuku bermain sepeda bersama temannya, aku hanya bisa naik di belakangnya.
Aku bertekad belajar naik sepeda apapun resikonya, setiap pagi dan sore aku mengajak ibu/bapakku untuk mengajariku naik sepeda, saat berumur 1,5 tahun aku belajar menggunakan sepeda roda 4, aku sangat senang dan berpikir naik sepeda itu sangat mudah.
Tetapi saat berumur 2 tahun aku belajar naik sepeda roda 2. Sore itu aku belajar bersama bapakku, aku mengayuh sambil di pegangi oleh bapakku, saat pegangannya di lepas aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh, aku pun menangis.
Setelah kejadian itu, aku berpikir naik sepeda itu sulit. untuk kedua kalinya aku belajar naik sepeda, dan hasilnya aku sedikit bisa menyeimbangkannya.
Suatu siang sehabis hujan, aku di titipkan di rumah pakde ku. Aku nekat bermain sepeda sendiri, saat melewati jalan yang licin, sepedaku terpeleset dan aku terjatuh dari sepeda sehingga dahi ku terbentur tempat duduk yang terbuat dari beton, aku menangis dan dahiku mengeluarkan banyak darah.
Kakak sepupuku yang mendengar aku menangis, segera keluar melihatku dan langsung membawaku ke puskesmas terdekat. Sampai sekarang pun masih ada bekas luka di dahiku.
Walapun mengalami kejadian seperti di atas, aku tidak menyarah dan belajar dari kegagalan, aku terus berlajar naik sepeda dengan didampingi ibu/bapakku. Sampai pada usia 3 tahun aku pun sudah lancar naik sepeda.
Penulis: S
Comments
Post a Comment