Bahagiaku Ada di Ibu
Suatu ketika ada seorang anak yang selalu di cap nakal dan bodoh oleh orang orang, tetapi ingin selalu membahagiakan ibunya yang sakit-sakitan. Harta yang ia miliki saat ini hanyalah ibunya.
Anak tersebut selalu membuat ulah dimana pun ia berada tetapi tidak jika berada di rumah. Sang ibu tidak pernah mendengar anaknya melakukan hal-hal yang aneh. Ia menganggap anaknya adalah anak yang baik. Ternyata memang si anak selalu berusaha agar sang ibu tidak mendengar kenakalan dirinya. Dia tidak ingin ibunya merasa sedih dan kecewa.
Hingga pada suatu hari, si anak tersebut nekat mencuri makanan di suatu warung. Si pemilik warung tersebut mengetahui ada seorang anak yang mengambil makanan dari warungnya. Si pemilik warung membiarkan anak tersebut mengambil makanan dari warungnya dan tidak memarahi anak tersebut. Tetapi setelah anak tersebut pergi, ia mengikuti anak tersebut sampai ke rumahnya.
Betapa terkejutnya si pemilik warung mengetahui ternyata makanan yang di bawa anak tersebut di berikan kepada ibunya yang sedang sakit. Ibunya kelaparan dan belum bisa minum obat. Si anak belum bisa bekerja sehingga hal yang dapat ia lakukan untuk memperoleh makanan hanya mencuri.
Si pemilik warung kembali ke warungnya dengan perasaan tercengang terhadap anak tersebut. Pemilik warung menyadari bahwa diluar sana masih banyak orang yang kekurangan dan kesusahan untuk mencari makan.
Beberapa hari kemudian, si anak melewati warung tempat ia kemarin mencuri makanan. Pemilik toko yang melihat anak tersebut, langsung menghampiri anak tersebut dan berkata "Nak...mengapa kamu kemarin mencuri makanan di warungku?" karena takut, si anak ingin segera lari meninggalkan tempat itu. Pemilik warung kembali berkata "Kamu tidak usah takut!, aku tidak akan memarahimu. Kamu boleh membahagiakan ibumu tetapi tidak dengan cara mencuri. Ini ada beberapa makanan yang dapat kamu makan bersama ibumu. Jangan mencuri lagi yaa...!! Apakah kamu tidak kasihan memberi ibumu makanan hasil mencuri? Jika ibumu mengetahui kamu mencuri, pasti ibumu sangat kecewa kepadamu."
Anak tersebut terdiam sejenak, ia sangat menyesal dan berterima kasih kepada pemilik warung tersebut "Aku menyesali perbuatanku Paman. Aku tidak akan mencuri lagi. Terima kasih banyak Paman." Anak tersebut berjanji kepada dirinya sendiri akan semangat belajar dan akan membahagiakan ibunya dengan cara yang benar.
Penulis: A
Comments
Post a Comment