Kisah Anak yang Strict Parent
Umur saya 12 Tahun, Punya orang tua yang terlalu ketat awalnya tidak mengganggu saya. Saya merasa senang ketika mereka perhatian dan melimpahkan kasih sayang kepada saya (Kebetulan saya anak tunggal) sampai ketika saya beranjak remaja, peraturan rumah semakin ketat.
Tidak boleh pulang di atas jam 7 Malam, padahal saya cuma pergi belajar kelompok dengan teman saya.Saya tidak pernah hang out dengan teman/bahkan sahabat saya. saya sering diajak oleh teman untuk keluar rumah tetapi tidak pernah diizinkan dengan alasan "Takut terjadi apa-apa di jalan" dan jelas saya tidak ingin itu terjadi.
Ketika persiapan ulangan/ujian HP akan disita, ini tidak terlalu mengganggu.
Orang tua saya sering diam-diam mengecek HP saya.
Tidak boleh terlalu akrab dengan lawan jenis, tidak boleh pacaran. Jika terlihat dekat, saya akan dimarahi. Sewaktu SMP saya pernah dekat dengan lawan jenis, orangnya baik, sopan dan pintar. saya cukup dekat dengannya karena anaknya asik diajak bicara, kami berteman baik sampai Ibu saya yang merupakan guru saya di SMP mulai curiga kami berdua berpacaran. Ibu saya menginterogasi saya setelah pulang sekolah, HP saya diperiksa sampai mereka membaca isi Percakapan saya dengan si teman tadi. Setelah puas, mereka mulai memarahi dan menceramahi saya karena terlihat dekat dengan teman saya. Setelah perkara itu, saya mulai mengambil kesimpulan bahwa berteman dengan lawan jenis itu tidak baik.
Rute perjalanan sehari-hari : Rumah-sekolah, sekolah-rumah. harus melewati jalan yang sudah ditentukan, tidak boleh melewati jalan lain. Masalah ini juga terjadi saat saya masih SMP, saat itu saya dan teman-teman saya penasaran melewati jalan yang laun, jadi kami mencoba melewatinya. Suasananya teduh, banyak pepohonan jadi kami benar-benar menikmati perjalanan, bercanda tawa tetapi tidak menimbulkan keributan. Jujur saya senang mendapat teman baru pada saat itu. Rutenya tidak berbeda dari jalan yang biasa saya lewati, jaraknya pun sama, kami tidak bermain ke tempat lain dan langsung pulang. Ketika sampai di rumah, saya kaget melihat ibu saya sedang berdiri dengan wajah penuh amarah, saya mengira bahwa ibu saya marah bukan karena saya, jadi setelah menyapa dan memberi salam saya langsung ke kamar.Saya tidak mengira bahwa ibu saya akan berteriak memanggil nama saya dengan penuh amarah, saya menghampirinya lalu langsung ditampar dengan keras, kepala saya langsung terasa sakit sampai telinga berdengung.Saya kaget, bingung.Kenapa saya ditampar? dan apa alasannya? saya hanya terdiam, saat ingin berbicara saya langsung digertak dengan makian. Jujur saat itu saya benar-benar ketakutan, ayah saya sedang merantau dan tidak ada orang lain di rumah. Tidak ada yang membela saya, saya tidak tahu mau berbuat apa saat itu.Saya berusaha tenang dan tidak menangis walaupun tamparan tadi rasanya membuat pipi membengkak.Setelah kejadian itu saya tidak pernah lagi melewati rute yang berbeda, jika terlambat pulang sekolah, saya akan menangis agar tidak dimarahi.
Jika bepergian harus ditemani orang tua, biasanya sepupu saya akan menemani saya. Bahkan ketika saya pergi ke Acara ulang tahun teman saya
Harus berpakaian tertutup, di dalam rumah sekalipun.
Jika nilai raport menurun akan langsung dimarahi di sekolah, ini waktu saya masuk SD. Semester 1 nilai saya tidak terlalu bagus, dan langsung dimarahi disekolah. saya hampir menangis ketika terus dibanding-bandingkan. tetapi berusaha menahan malu, karena banyak orang yang melihat.
Ketika sendirian di rumah, mereka akan mengunci saya di dalam rumah. 'Takut ada maling katanya'
Saya sebenarnya bukan anak yang pendiam, jika bertemu teman yang sefrekuensi saya akan berusaha dekat dengan mereka. tetapi orang tua saya melarang. tidak boleh terlalu dekat dengan teman, tidak ada teman yang dapat dipercaya, tidak ada orang yang benar-benar tulus.
selama ini saya belum pernah bepergian dengan lawan jenis
Orang tua saya selalu curiga kepada saya, katanya kenapa saya terlalu diam/ kenapa sering begadang. sampai mereka mengira saya menonton film dewasa, padahal saya sering keasikan bermain game dan lebih parahnya lagi Dibanding-bandingkan dengan anak tetangga.
Tetapi,Banyak orang tua akan melakukan apa saja untuk anak-anak mereka, kecuali membiarkan mereka menjadi diri mereka sendiri.
Penulis: RN
Comments
Post a Comment